Farid Al-Awlaqi, anggota presidensi Dewan Tertinggi Gerakan Selatan, hanya membuat satu pernyataan tegas: STC harus menyerahkan senjata dan institusi negara kepada pemerintah yang sah sebelum ikut dialog Riyadh. Pernyataan ini, meskipun singkat, mengandung implikasi politik yang besar.
Pertama, pernyataan Al-Awlaqi menekankan kewajiban STC untuk mengakui otoritas pemerintah sah. Dengan kata lain, dialog tidak bisa dilakukan jika STC tetap mengoperasikan struktur paralel dan mempertahankan kekuatan militer sendiri.
Kedua, menyebut penyerahan senjata dan institusi negara sebagai syarat berarti Al-Awlaqi menilai bahwa dialog tanpa langkah ini hanyalah formalitas. Tanpa kontrol pemerintah atas wilayah dan aparat, negosiasi akan kehilangan kredibilitas.
Ketiga, pernyataan ini juga secara implisit menyoroti dualisme kekuasaan di selatan Yaman. STC masih memegang senjata dan beberapa institusi lokal, yang menjadi faktor penghambat stabilitas politik.
Keempat, Al-Awlaqi menegaskan syarat ini sebelum proses dialog. Hal ini menunjukkan bahwa Dewan Tertinggi ingin memastikan adanya kepastian praktis, bukan hanya simbolik, sebelum merundingkan isu-isu politik selatan.
Kelima, dengan menyebut institusi negara, pernyataan Al-Awlaqi tidak hanya soal militer. Ini menyangkut kantor pemerintahan, jaringan administrasi, dan logistik yang masih berada di bawah kendali STC.
Keenam, secara diplomatik, pesan Al-Awlaqi memberikan tekanan moral dan politik pada STC. Mereka dipaksa mempertimbangkan bahwa keikutsertaan dalam dialog internasional tidak bisa lepas dari langkah nyata di lapangan.
Ketujuh, syarat penyerahan senjata juga berkaitan dengan perlindungan warga sipil. STC yang mempertahankan pasukan bersenjata di daerah sipil berpotensi memicu konflik internal.
Kedelapan, pernyataan ini menegaskan bahwa legitimasi dialog Riyadh bergantung pada langkah konkret, bukan sekadar pernyataan politik atau klaim hak merdeka.
Kesembilan, Al-Awlaqi secara tidak langsung menyoroti keseriusan STC. Pernyataan singkatnya menimbulkan pertanyaan: apakah STC benar-benar bersedia berkomitmen pada mekanisme politik yang sah atau tetap memprioritaskan kekuasaan militer mereka?
Kesepuluh, syarat yang diajukan juga mencerminkan model penyelesaian konflik berbasis keamanan dan politik, di mana stabilitas tidak bisa dicapai tanpa kontrol nyata atas senjata dan lembaga pemerintah.
Kesebelas, analisisnya menegaskan bahwa STC yang menuntut pengakuan selatan sebelum dialog bertolak belakang dengan posisi Dewan Tertinggi. Al-Awlaqi menekankan urutan aksi yang logis: penyerahan senjata dulu, dialog kemudian.
Keduabelas, pernyataan singkat ini mengandung pesan diplomatik ke Arab Saudi dan aktor internasional: Riyadh harus menegakkan aturan yang menempatkan pemerintah sah sebagai pusat proses.
Ketigabelas, implikasi internalnya juga besar. Loyalitas aparat sipil dan militer di selatan dapat berubah jika mereka melihat bahwa STC menunda penyerahan senjata, sementara PLC dan Dewan Tertinggi menuntut kepatuhan.
Keempatbelas, strategi Al-Awlaqi adalah menghubungkan legitimasi politik dengan keamanan nyata. Tanpa langkah ini, dialog akan menjadi sarana politik semata tanpa menyelesaikan masalah di lapangan.
Kelima belas, pernyataan singkat ini juga bisa menekan STC secara moral, karena mempertahankan senjata sendiri saat pemerintah sah menunggu akan memperlihatkan mereka tidak kooperatif di mata publik dan dunia internasional.
Keenam belas, secara praktis, jika STC menolak syarat ini, proses dialog bisa terhambat lama, dan risiko konflik di selatan tetap tinggi.
Ketujuh belas, pernyataan Al-Awlaqi menegaskan bahwa kunci keseriusan STC diukur dari kesiapan menyerahkan kontrol institusi dan senjata, bukan sekadar partisipasi dalam meja perundingan.
Kedelapan belas, analis menilai bahwa posisi Dewan Tertinggi ini adalah cara untuk menentukan batas antara politik simbolik dan aksi nyata, sehingga negosiasi tidak menjadi formalitas yang gagal.
Kesembilan belas, meskipun singkat, pernyataan ini sudah cukup untuk menyoroti perbedaan paradigma antara STC dan Dewan Tertinggi Gerakan Selatan dalam menangani dialog dan stabilitas wilayah.
Keduapuluh, akhirnya, pesan Al-Awlaqi menunjukkan bahwa STC belum sepenuhnya serius jika mereka tetap menahan senjata dan institusi. Dialog Riyadh hanya bisa berjalan efektif jika ada langkah konkret yang menunjukkan komitmen mereka terhadap proses politik yang sah.
Baca selanjutnya